Beranda | Artikel
Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 2): Apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal?
9 jam lalu

Sosok Abdullah bin Shayyad sejak kemunculannya terus menjadi misteri. Kematiannya pun menjadi polemik. Ada yang mengatakan dia meninggal saat peristiwa Harrah; ada yang mengatakan dia mati di Madinah dan disaksikan kaum muslimin; sementara yang lain mengatakan dia tidak mati, tetapi menghilang entah kemana.

Dalam pembahasan sebelumnya tentang keadaan Ibnu Shayyad dan ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya, terlihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menunda dalam menetapkan status Ibnu Sayyad karena beliau tidak diberi wahyu apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal atau bukan.

Namun, Umar رضي الله عنه bersumpah di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menegur atau menyangkal sumpahnya itu. Beberapa sahabat lain juga sependapat dengan Umar dan bersumpah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, seperti yang diriwayatkan dari Jabir, Ibnu Umar, dan Abu Dzar.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Munkadir disebutkan,

رأيتُ جابر بن عبد الله يحلف بالله إن ابن صياد هو الدَّجّال. قلتُ: تحلف بالله؟! قال: إنِّي سمعتُ عمر يحلف على ذلك عند النّبيّ صلى الله عليه وسلم، فلم ينكره النّبيّ صلى الله عليه وسلم

“Aku melihat Jabir bin Abdullah bersumpah dengan Allah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal. Aku bertanya, ‘Kamu bersumpah dengan Allah?’ Ia menjawab, ‘Aku mendengar Umar bersumpah di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi tidak menegurnya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nafi’ meriwayatkan,

كان ابن عمر يقول: والله ما أشكُّ أن المسيح الدَّجّال ابن صياد

“Ibnu Umar berkata, ‘Demi Allah, aku tidak meragukan bahwa Al-Masih ad-Dajjal adalah Ibnu Sayyad.’” (HR. Abu Daud)

Zaid bin Wahb meriwayatkan bahwa Abu Dzar رضي الله عنه berkata,

لأنَّ أحلف عشر مرات أن ابن صائد هو الدَّجّال أحبُّ إليَّ من أن أحلف مرّة واحدة أنّه ليس به

“Lebih aku sukai bersumpah sepuluh kali bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal daripada sekali bersumpah bahwa ia bukan Dajjal.” (HR. Ahmad)

Nafi’ juga meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah bertemu Ibnu Shayyad di salah satu jalan di Madinah dan mengatakan sebuah perkataan kepadanya. Ibnu Shayyad sangat marah atas perkataan Ibnu Umar hingga membuat keributan di jalan. Kemudian Ibnu Umar masuk menemui Hafsah dan memberitahukan kejadian itu. Hafsah berkata,

“Semoga Allah merahmatimu! Apa yang engkau inginkan dari Ibnu Shaid?! Apakah engkau tidak mengetahui bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya ia hanya keluar karena kemarahan yang dibencinya?!’” (HR. Muslim)

Dalam sebuah riwayat dari Nafi’, ia berkata bahwa Ibnu Umar رضي الله عنه berkata,

“Aku telah menemuinya sebanyak dua kali. (Pada pertemuan pertama) aku menemuinya, lalu aku berkata kepada sebagian mereka (sahabat Ibnu Shayyad), “Apakah kalian mengatakan bahwa dia Dajjal?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah.” Nafi berkata, Ibnu Umar mengatakan, “Engkau telah berbohong kepadaku, demi Allah. Sebagian dari kalian telah mengabarkan kepadaku sesungguhnya dia tidak akan mati hingga dia menjadi orang yang paling banyak harta dan anaknya di antara kalian, demikianlah anggapan tentangnya sampai hari ini.”

Dia berkata, “Kami pun berbincang-bincang, kemudian meninggalkannya.” Dia berkata, “Aku berjumpa dengannya pada kesempatan yang lain sementara matanya telah membengkak.” Aku bertanya, “Sejak kapan matamu seperti yang aku lihat sekarang ini?” Dia menjawab, “Tidak tahu.” Aku menyanggah, “Engkau tidak tahu sementara ia berada di kepalamu sendiri?” Dia berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan hal ini pada tongkatmu ini.” Beliau berkata, “Lalu dia mendengus seperti dengusan keledai yang paling keras yang pernah aku dengar.” Beliau berkata, “Lalu sebagian sahabatnya mengira bahwa aku telah memukulnya dengan tongkatku hingga matanya cidera. Demi Allah, padahal aku sama sekali tidak merasakan (berbuat seperti itu).”

Dia (Nafi) berkata, “Dan dia datang kepada Ummul Mukminin (Hafshah), lalu menceritakannya, beliau bertanya, ‘Apa yang engkau inginkan darinya?! Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau (Nabi) pernah bersabda,

ما تُريد إليه؟! ألم تعلم أنّه قد قال: “إن أول ما يبعثه على النَّاس غضبٌ يغضبه

‘Sesungguhnya penyebab awal yang mendorongnya keluar kepada manusia adalah kemarahan yang menyebabkan dia marah.’” (HR. Muslim)

Ibnu Sayyad sering mendengar apa yang orang katakan tentangnya dan merasa tersinggung. Ia membela diri dengan mengatakan bahwa ia bukan Dajjal, dan membuktikan hal itu dengan menyatakan bahwa ciri-ciri Dajjal yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada padanya.

Dalam hadis dari Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه disebutkan,

“Kami pernah keluar untuk melakukan haji atau umrah dan Ibnu Shaid ikut bersama kami, kemudian kami singgah. Selanjutnya, orang-orang berpisah sementara aku bersamanya. Aku merasa sangat takut karena apa yang dikatakan manusia tentangnya.” Abu Sa’id berkata, “Dia datang dengan perbekalannya, lalu dia meletakkannya bersama perbekalanku.” Aku berkata kepadanya, “Udara sangat panas, sebaiknya engkau meletakkannya di bawah pohon itu,” Abu Sa’id berkata, “Akhirnya dia melakukannya.”

Kemudian kami diberikan satu ekor kambing, lalu dia pergi dan kembali dengan membawa satu wadah besar. Dia berkata, “Minumlah, wahai Abu Sa’id!” Aku berkata, “Sesungguhnya udara sekarang ini panas sekali, dan susu itu juga panas,” sebenarnya tidak ada masalah bagiku, hanya saja aku tidak ingin meminum sesuatu yang berasal dari tangannya, (atau dia berkata) mengambil dari tangannya.”

Lalu dia berkata, “Wahai Abu Sa’id, sebelumnya aku hendak mengambil tali, lalu menggantungkannya di pohon, kemudian aku ikat leherku karena (merasa sakit hati) terhadap segala hal yang dikatakan oleh manusia. Wahai Abu Sa’id, siapakah yang tidak mengetahui hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari kalian, wahai orang-orang Anshar. Bukankah engkau orang yang paling mengetahui hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Dia (Dajjal) adalah orang kafir,’ sementara aku adalah seorang muslim? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) adalah orang yang tidak memiliki anak, sementara aku telah meninggalkan anak-anakku di Madinah? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) tidak akan pernah memasuki Madinah dan Makkah, sementara aku datang dari Madinah menuju Makkah?”

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Hampir saja aku menerima alasannya,” kemudian dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya, dan di mana dia sekarang.” Abu Sa’id berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau pada hari-harimu.’” (HR. Muslim)

Ibnu Sayyad berkata dalam riwayat lain, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui di mana dia (Dajjal) sekarang, dan mengenal bapak juga ibunya.” (Perawi berkata) dikatakan kepadanya, “Apakah engkau senang jika engkau adalah dia?” Dia menjawab, “Jika ditawarkan kepadaku, maka aku tidak akan membencinya.” (HR. Muslim)

Para ulama merasa bingung dan rancu dengan hal-hal yang berkaitan dengan Ibnu Sayyad, sehingga urusannya menjadi sulit dipahami. Sebagian orang berpendapat bahwa ia adalah Dajjal. Mereka mendasarkan pendapatnya pada fakta bahwa beberapa sahabat رضي الله عنهم bersumpah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal, serta berdasarkan interaksi dan kejadian yang menimpa Ibnu Sayyad bersama Ibnu Umar dan Abu Sa’id رضي الله عنهم.

Namun, sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa Ibnu Sayyad bukanlah Dajjal. Mereka berdalil dengan mengacu pada hadis Tamim ad-Dariy رضي الله عنه.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/112580-kisah-ibnu-shayyad-bag-2.html